PEMANFAATAN

Publikasi Pemanfaatan

SURVEI PENGGUNA

SURVEI PENGGUNA
 

Hitstat

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN KPHP DOLAGO TANGGUNUNG PROVINSI SULAWESI TENGAH (2015 s/d 2017)
a. Kondisi Umum

Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Dolago Tanggunung termasuk secara administrasi terletak pada beberapa kabupaten yaitu Kabupaten Parigi Moutong  yang meliputi 12 (dua belas) kecamatan, Kabupaten Donggala yang meliputi 8 (delapan) kecamatan, Kabupaten Sigi yang meliputi 2 (dua) kecamatan, dan Kota Palu yang meliputi 5 (lima) kecamatan. Secara geografis, KPH Dolago Tanggunung terletak pada koordinat : 119°39'48,33" - 120°33'50,67” BT dan 00°01'25,25" - 01°13'20,09" LS.

KPHP Dolago Tanggunung ditetapkan sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 755/Menhut-II/2012 tanggal 26 Desember 2012 yang terletak pada Unit VI dan Unit IX seluas 144.349 Ha, terdiri dari Hutan Lindung seluas 67.794 Ha, Hutan Produksi Terbatas seluas 57.548 Ha dan Hutan Produksi Tetap seluas 19.008 Ha. Dengan adanya Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.869/Menhut-II/2014 tanggal 29 September 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Tengah dan redesain wilayah kelola KPH di Provinsi Sulawesi Tengah pasca diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Wilayah kelola KPHP Dolago Tanggunung bertambah dengan dimasukkannya unit V sebagai bagian dari wilayah kelola KPHP Dolago Tanggunung.

Dengan adanya penambahan unit maka luas wilayah KPHP Dolago Tanggunung menjadi 240.666,81 Ha, terdiri dari Hutan Lindung seluas 104.660,92 Ha (43,49%), Hutan Produksi Terbatas seluas  118.341,87 Ha (49,17%) dan Hutan Produksi Tetap seluas 17.664,02 Ha (7,34%). Wilayah kelola KPHP Dolago Tanggunung ini berada dalam Kelompok Hutan (KH) Gunung Tanggunung, KH Dolago Sausu, KH Kalora, KH Sausu Trans, KH Palolo, KH Sausu, KH. Alindau, KH. Balaesang, KH.Dolago-Toribulu, KH.Sinio, KH.Taipa, KH.Penau, KH. Tompe-Balaesang-Alindau, dan KH.Toribulu. Dalam pengelolaan wilayahnya, KPHP Dolago Tanggunung membagi wilayah kelolanya menjadi 5 (lima) resort.

 

b. Perkembangan Pembangunan KPHP Dolago Tanggunung

1. Pengembangan Budidaya Lebah Madu (Apis Cerana)


Pengembangan usaha budidaya lebah madu oleh KPHP Dolago Tanggunung dilaksanakan dalam rangka peningkatan usaha produktif berbasis masyarakat sekitar hutan. Sejak tahun 2015 sampai dengan saat ini, dalam rangka pengembangan usaha budidaya lebah madu ini telah dibentuk 5 (lima) Kelompok Tani Hutan (KTH) atau sebanyak 120 Orang di Wilayah KPH Dolago Tanggunung dengan rata-rata produksi per bulan 81,25 Kg dengan rata-rata tambahan penghasilan sebesar Rp. 338.542,- /bulan/orang. Tambahan Penghasilan bagi masyarakat ini akan terus bertambah seiring dengan adanya tambahan jumlah stup-stup madu hasil pengadaan secara swadaya oleh masyarakat.

Kendala/permasalahan yang dihadapi saat ini oleh KTH Budidaya Lebah Madu di wilayah  KPH Dolago Tanggunung adalah :

a. Kekurangan STUP dan sarana prasarana budidaya lebah madu serta belum tersedianya rumah produksi madu di setiap KTH

b. Adanya gangguan hama, antara lain ; burung wallet sebagai pemangsa serangga

 

2. Pengembangan Ragam Jenis Produk Madu Budidaya


KPH Dolago Tanggunung bekerjasama dengan 5 (lima) KTH Budidaya Lebah Madu melakukan pengembangan ragam jenis produk madu hasil budidaya, antara lain Madu Asli (Original Honey), Madu Murni (Pure Honey), Madu Sarang (Chunk Honey), Madu Kesehatan Lamatu (Long Lasting Honey), Lilin Lebah (Beswax).

 

 

3. Pengembangan Agroforestry Tanaman Nilam dan Pembangunan Rumah Produksi Penyulingan Minyak Atsiri/Nilam


Dalam rangka pelaksanaan resolusi konflik tenurial berupa perambahan kawasan hutan produksi oleh masyarakat sekitar hutan, KPH Dolago Tanggunung bersama 1 (satu) Kelompok Tani Hutan (25 orang) Desa Air Panas, Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong mengembangkan Agroforestry berupa tanaman nilam seluas 10 hektar. Sebagai tindak lanjut dari pengembangan agroforestry tanaman nilam, KPH Dolago Tanggunung bekerjasama dengan KTH Desa Air Panas, Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong membangun rumah produksi penyulingan minyak atsiri/nilam.

4. Kegiatan Penguatan dan Pembentukan KTH

Penguatan dan Pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) dilaksanakan di 5 Kecamatan di wilayah KPH Dolago Tanggunung, yaitu : Kecamatan Sigi Biromaru, Kecamatan Parigi Selatan, Kecamatan Tanantovea, Kecamatan Palolo dan Kecamatan Sausu.

5. Forum Bisnis KPHP di Provinsi Sulawesi Tengah


Sebagai perwujudan dukungan dan komitmen Percepatan Pengembangan Ekonomi Berbasis Masyarakat di KPH, maka pada tanggal 4 September 2017 dilaksanakan Forum Bisnis KPHP di Provinsi Sulawesi Tengah yang diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah dan MFP, dengan rangkaian kegiatan Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Gubernur Sulawesi Tengah dengan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari tentang Percepatan Pengembangan Ekonomi Berbasis Masyarakat di Wilayah KPH Provinsi Sulawesi Tengah yang bertujuan untuk memperoleh manfaat ekonomi dan sosial sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan/atau di sekitar wilayah KPH serta terwujudnya pengelolaan hutan lestari di Provinsi Sulawesi Tengah, yang kemudian ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Investor/Pihak Ketiga.

Pada acara tersebut juga dilakukan penandatanganan MoU antara KPHP Dolago Tanggunung dengan Konsorsium CV. Simply Creation dan PT. Sahabat Usaha Rakyat dalam pengembangan usaha rotan serta antara KPHP Dolago Tanggunung dengan PT. Wira Usaha Lebah Kreasi dalam pengembangan usaha minyak atsiri/nilam. Selain itu, KPH Dolago Tanggunung yang merupakan salah satu KPH yang ditetapkan sebagai KPH klaster rotan juga memperoleh bantuan mesin/peralatan pengolahan rotan dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Ditjen PHPL untuk dikerjasamakan dengan KTH Kaleompata, Desa Siniu Kecamatan Siniu Kabupaten Parigi Moutong. Alat/mesin tersebut akan dioperasionalkan setelah selesai dibangunnya rumah produksi melalui APBN BPHP Wilayah XII Palu tahun 2018.

6. Mesin/Peralatan Pemecah Kemiri dan Pemecah Kopi


Dalam rangka mengembangkan usaha produktif berbasis masyarakat di sekitar hutan produksi, KPHP Dolago Tanggunung pada tahun 2017 mendapatkan fasilitasi pengadaan mesin/peralatan pemecah kemiri dan mesin/peralatan pemecah kopi.

Mesin/peralatan pemecah kemiri akan digunakan dalam usaha bisnis KPHP bersama KTH di Desa Bakubakulu Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi dan Desa Bale Kecamatan Mantikulore Kota Palu. Sedangkan mesin/peralatan pemecah kopi  akan digunakan bersama KTH di Desa Nupabomba Kecamatan Tanantovea Kabupaten Donggala.

7. Patroli Pengamanan Hutan secara Partisipatif


Dalam rangka melaksanakan salah satu tugas pokok dan fungsi KPH sebagai institusi perlindungan hutan dan konservasi SDA, maka melalui fasilitasi BPHP Wilayah XII Palu, KPHP Dolago Tanggunung telah melaksanakan kegiatan Patroli Rutin Pengamanan Hutan dengan melibatkan masyarakat secara partisipatif/MMP.

Patroli pengamanan hutan partisipatif dilaksanakan melalui operasi pengamanan hasil hutan illegal dan investigasi kegiatan perambahan kawasan hutan di wilayah KPHP.

8. Sosialisasi/Bimtek Penatausahaan Hasil Hutan dan Iuran Hasil Hutan

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekitar hutan terhadap peraturan/ketentuan dalam pemanfaatan hasil hutan serta kewajiban pembayaran iuran hasil hutan kepada Negara, maka melalui fasilitasi BPHP Wilayah XII Palu, KPHP Dolago Tanggunung telah melaksanakan kegiatan Sosialisasi/Bintek Penatausahaan Hasil Hutan dan Iuran Hasil Hutan.

9. Rencana Pengembangan Wana Wisata Kebun Kopi

Salah satu upaya dalam penyelesaian konflik tenurial pemanfaatan kawasan hutan di wilayah KPHP Dolago Tanggunung mulai tahun 2018 akan dikembangkan model pengelolaan hutan bersama masyarakat dalam bentuk pembangunan Wana Wisata mengingat lahan kawasan hutan yang telah diokupasi tersebut berada di dalam kawasan hutan yang letaknya di ketinggian dan sangat strategis untuk dikembangkan menjadi salah satu obyek tujuan wisata daerah di Sulawesi Tengah.

10. Pengembangan Rencana Usaha Gula Aren/Gula Semut

Salah satu potensi hasil hutan bukan kayu yang sangat potensial untuk diusahakan bersama masyarakat adalah produk hasil hutan bukan kayu berupa nira aren. Dari nira aren tersebut, saat ini masyarakat hanya mampu untuk memproduksinya secara sederhana menjadi gula merah.

Pengolahan nira aren untuk 1 KTH di Desa Lende Wilayah KPHP Dolago Tanggunung sebanyak 20 orang dapat memperoleh nira sadapan sebanyak 30 liter perorang perhari yang dapat diolah menjadi 15 Kg gula merah. Harga gula merah per-kg adalah Rp. 20.000. Dengan demikian masyarakat pengolah gula aren rata-rata perhari dapat memperoleh tambahan penghasilan sebesar Rp. 300.000,-.

Kendala yang dihadapi masyarakat anggota KTH pengolah nira aren di wilayah KPHP Dolago Tanggunung antara lain ; belum tersedianya rumah produksi yang memadai, peralatan menyadap dan memasak nira aren yang masih sangat terbatas.

 


Publikasi KPH